Nobody knows

Akan bertemu dengan apa dan siapa kita esok hari…who knows?

(Nobody knows)

Aku ingat betapa beratnya ketika aku harus menggerakkan kaki pindah ke perumahan ini. Berat oleh ketakutan tidak akan menemukan sesuatu yang lebih indah dan menghidupkan hati.

Aku yakin, seperti itulah manusia dengan segala keterbatasannya.

Ada kesan yang lain ketika pertama kali melihat tempat itu. Sebuah rumah tipe 70 di blok bagian depan perumahan dengan plang besar di depan rumah bertuliskan Tntegrated Therapy Center. Sebuah tempat terapi terpadu untuk anak-anak dengan gangguan perkembangan.

Tak pernah terbayang olehku pada akhirnya aku akan sebegitu tertariknya dengan tempat itu. Dengan anak-anak itu. Meski pada awalnya yang terpikir di otakku adalah bertemu dengan anak-anak autistik yang seperti di film-film itu. Parah, dengan kontak sosial yang rumit.

Kenyataannya, aku bertemu dengan anak-anak dengan bermacam gangguan perkembangan. Dari mulai gangguan perkembangan umum, gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas, dan anak-anak autistik. Bedanya, anak-anak autistik ini telah menjalani intervensi sejak dini,kontak mata sudah lebih banyak dan kemampuan sosial lumayan. Meski tetap dengan keterbatasan minat mereka.

Ehm, sungguh menyenangkan bisa berada di tengah- tengah mereka meski basic ilmuku bukanlah psiko- malah jauh sekali dari dunia itu.

Tapi begitulah jalan hidup…akan membawa kita kemana saja.

MonSan-Tuban, 20-09-08

Comments (1,221) »

Nyamuk, obat nyamuk and i…

          Seekor nyamuk kecil kurus berdengung-dengung berputar di atas kepalaku. Hari menjelang malam begini nyamuk-nyamuk mulai unjuk kebolehan. Mengeluarkan suara khasnya yang mengganggu.


Hanya aku yang terganggu. Suamiku nyaris tak terusik. Meski puluhan nyamuk (hiperbolis) menggigit tangan, kaki, wajah tetep tidak perduli. Justru aku yang keplok-keplok kesana-kemari.


Sebenarnya aku juga berusaha menghilangkan kesebelanku pada nyamuk-nyamuk itu. Aku berasal dari daerah dataran tinggi. Sebuah kota kecil dengan hawa sejuk cenderung dingin. Dingin maksudnya! Di daerah kami, tak ada nyamuk yang ikut masuk rumah untuk nonton tivi pada malam hari. Tidak ada dengungan atau gatal di badan karena gigitan nyamuk nakal. Mungkin karena itu, begitu aku pindah ke tuban dan mendapati tiap malam menjelang ada begitu banyak nyamuk ikut masuk rumah berpesta darah kami.


Aku berusaha tak perduli. Seperti juga suamiku yang tetap bergeming meski beberapa mili darahnya berpindah pada tubuh-tubuh kecil si nyamuk. Merubah mereka-mereka menjadi nyamuk-nyamuk berperut gendut yang kesulitan terbang.

Tapi, rasa gatal yang ditimbulkan membuatku tidak nyaman. Sruk!…Sruk!… garuk sana-garuk sini. Olesin minyak kayu putih…duuuuuhhh!! manna tahan!…

Sebel! Kuraih botol berisi Aerosol anti nyamuk dan kecoa berbau berbau khas nan menyengat. Sesuatu yang kalau di rumahku, di wonosobo sana, menjadi solusi terakhir jika musuh bebuyutan adikku (kecoa) berkeliaran. Pilihan terakhir jika lemparan sandal tidak mampu menewaskan sang kecoa jagoan.


Srot-srot, ku semprot tiap-tiap sudut ruangan sepenuh hati. Prosesi pembantaian. Awalnya hanya ku lakukan jika kebetulan kami punya acara keluar malam. Dengan begitu, ketika kami pulang baunya telah hilang. Hanya menyisakan mayat-mayat nyamuk yang bergelimpangan.


Tapi, lama-lama aku tidak tahan untuk tidak membasmi mereka. Malam-malam ketika kami sedang asyik menonton tivi dan dengung nyamuk membaui keringat kami, atau juga ketika aku harus terbangun malam-malam karena serangan mereka. Sebuah penelitian- yang aku lupa sumbernya- menyebutkan, nyamuk berkumpul di sekitar kita bukan karena bau darah, tapi karena bau keringat. Lagi pula mereka juga tidak makan darah, mereka hanya butuh darah untuk telur-telur mereka. Kasihan juga sih sebenarnya. Tapi, gatel nek!


Srooot!…Srooot!… Sambil menyemprot aku berpikir, lama-lama bukan hanya nyamuknya yang mati. Prosesi pembantaian nyamuk yang juga prosesi bunuh diri sendiri sedikit demi sedikit. Aku juga bisa mati karena gangguan pernafasan. Tercekik oleh bau obat nyamuk yang menyengat. Aku tidak yakin obat nyamuk- yang paling bagus sekalipun, tidak berefek pada sistem pernafasan kita.


Alternatif lain yang aman, mungkin kembali memakai raket listrik. Plak-plok!… Plak-plok! Bagus bukan? Sekalian mendalami how to play badminton. Kalau lagi senggang bisa di pake untuk main badminton berdua, satu pake raket satunya pake talenan. Tidak masalah kalau harus ganti raket tiap bulan karena korset eh! Konslet. Toh banyak keuntungan yang di dapat.

Sekali ayun, dua tiga nyamuk terlampaui.

Hwaha…ha…ha…

Nggak lucuw!

***


(MonSan-250708, Backsound lagu fav-ku yang tidak kukenal di Al-manar TV)

No comment »

Satu hari bersama ikan tongkol yang malang

Males
banget mau masak. Tidak ada ide mau masak siapa
hari
ini ^-^ hehe…

Pukul sembilan lewat, tukang
sayur mulai terdengar tanda-tandanya mau lewat.

Deru
motornya terdengar dari jarak dua blok.

Teet…teet… brentinya di
rumah sebelah dan sebelahnya lagi.

(Jarak
dua rumah-maksudnya)

Kakiku
melangkah menjemput bahan-bahan untuk masakanku esok hari

Entah apa itu-

Diantara
bawaan mbak penjualnya, yang tampak hanya sekeranjang-berisi 5 ekor
ikan tongkol berukuran sedang, sebungkus daging sapi, setengah k
ilo
ikan bandeng (aku tidak terlalu suka, meski suamiku suka), beberapa
bungkus telur puyuh matang seharga Rp.1500. Kesiangan, belanjaan
tinggal sisa-sisa.

Pilih yang mana ya?… 

Ehm…bingung
mo pilih yang mana..tetanggaku cari sop-sopan tapi dah habis. Aku
masih punya sayur
an
yang kemaren ku beli di pasar, jadi sekarang tinggal beli lauk buat
besok.

Setelah
lama menimbang dan me
ngukur
(apaan tuh!) akhirnya pilihan jatuh pada ikan tongkol. Beli satu aja
nanti dipotong jadi empat. Masak bersama tahu putih goreng. Beres!

Yang penting bisa buat sarapan
suami tersayang. Duuuh!!…

Aku
membawa belanjaan masuk rumah setelah kurang lebih setengah jam
ber-akrab-akrab ria dengan tetangga. Warga baru harus unjuk hidung
kal
au
tidak mau di cap sombong dan semakin tidak dianggap eksistensinya
(weleh!).

Meletakkan belanjaan di dapur,
aku langsung….nonton tivi. Masih terlalu pagi untuk memasak si
tongkol, pikirku. Agak siangan aja.

Ganti
channel sana-sini, selesai nonton Oprah Show nggak ada lagi acara
yang bagus untuk dinikmati. Masak sekarang saja…

Kakiku melangkah ke dapur,
tanganku mulai bergerak memotong tubuh si tongkol menjadi empat
bagian. Memotong-motong tahu kemudian menggorengnya setengah kering.
Mempersiapkan bumbu, mengulek…ulek-ulek. Sebentar saja masakan dah
beres. Setelah mematikan kompor, wajan berisi ikan tongkol ku
letakkan di samping kompor. Masih panas, jadi nggak ku tutup.

Ku tinggalkan dapur, kembali
duduk manis di depan tivi. Tanganku bergerak membuka majalah hasil
pinjaman dari tetangga. Asyik menikmati bacaan sambil sesekali
melihat tivi.

Dari
jauh terdengar penjual roti yang ku kenal. Beli roti tawar putih
tanpa kulit. Menikmatinya setangkup. Ditambah segelas air putih.
Ehm…ngantuk! (lho?)

Sehabis dhuhur, ngantuk. Tidur
nyok! Nglurusin punggung.

Baru
sebentar merebahkan diri diatas kasur, kesadaranku bergerak menurun.
Terhanyut ke pulau kapuk…

Pukul
setengah
dua siang, kesadaran mulai pulih. Mulai sadar kalau aku kepengen
buang air kecil hehe…

Dari kamar mandi, ada sesuatu
yang juga pelan-pelan terasa di perutku…Laper!

Sampai di dapur, baru mau
mengambil piring, ku lihat ada sesuatu yang aneh dengan ikan
tongkolku yang masih teronggok di wajan. Wah! Aku lupa menutup wajan
dan mengembalikannya ke atas kompor.

Terlihat tulang ikan
bertebaran. Ku telusuri jejak yang tampak. Ku temukan sebuah bola
mata sang ikan tergeletak di atas karpet biru baru yang baru kami
beli kemaren. Kembali ke ke dapur, baru tersadar, tiga potong ikan
tongkol telah lenyap. Yang tersisa hanya sepotong bagian ekor.

Hah!
Innalillahi, ikan tongkolku yang malang.

Kucing
tidak tahu sopan santun.

Kucing tidak
berperikemanusiaaaaaan!!!!

Hilang deh lauk buat sarapan
suamiku tersayang…

…besok
pagi, makan siapa???..

(Tuban, 070708, one day be4
ultah pertama perkawinan)

No comment »

circle of love



Manusia
itu… cepat sekali berubah

Sangat dinamis

Hati,
begitu mudah terbolak-balikkan

***

Aku,
sangat menyukai tetangga-tetanggaku di kontrakan lama.

Hangat  dan nyaman. Dengan
kekeluargaan yang terasa sangat kental. Satu sama lain begitu akrab.

Ketika
baru
pindah kesana, mereka menarikku masuk ke dalam lingkaran cinta yang
begitu hangat merona

Cantik

Sampai-sampai,
baru satu minggu dari dua bulan kesepakatan, aku bersikukuh ingin
tetap berada disana untuk jangka waktu lama. Enggan beranjak dari
kenyamanan yang telah merasuk dalam, di hati ini.

Manusia ternyata, begitu mudah
tersentuh cinta

Suamiku
berulang kali harus mengingatkan aku tentang kondisi rumah yang tidak
terlalu baik u
ntuk
dipertahankan. Sebelum dua bulan masa kontrak habis, suamiku berharap
kami menemukan rumah yang lebih baik. Lebih nyaman. Tidak perlu
mengepel berulang-ulang karena  bocor ketika hujan turun dan air
masih terus menetes sampai dua puluh empat jam kemudian. Saluran
pembuangan yang mampet dan terkadang mengeluarkan bau tak sedap.
Selokan yang berisi air kehijauan yang tidak mengalir. Pintu-pintu
kamar yang tidak bisa ditutup rapat. Setiap sore menguras wastafel di
dapur karena mampet. Parah!

Terkadang
aku sadar betapa tidak seharusnya tetap be
rtahan
di rumah itu setelah jangka waktu dua bulan terlewati. Kenapa ngotot
ingin tetap tinggal jika dengan harga yang sama bisa mendapatkan
rumah yang lebih baik.

Tapi, berat sekali memutuskan
untuk melangkahkan kaki keluar dari lingkaran cinta yang begitu
hangat ku rindukan.

Susah
sekali

untuk  melepaskan rasa nyaman yang telah terlanjur kita cicipi.

Kami
mulai
berusaha mencari kontrakan baru di perumahan yang sama. Meskipun
tidak bisa tinggal di blok yang sama setidaknya bisa tetap berada
dekat dengan lingkaran itu. Aku berharap masih bisa menyentuhnya…
kehangatan itu.

Kita punya harapan. Tuhan
punya jalan.

Tak
ada jalan bagi kami untuk bisa tetap tinggal dekat dengan l
ingkaran
itu. semua telah tertutup. Meski kami kesana-kemari menjelajah
komplek itu, mencari rumah nyaman yang bisa kami tempati. Tapi,
selalu…terlambat!

Akhirnya,
mau bagaimana lagi, jJalan yang Dia buka membawa kami ke perumahan
ini…

Lingkungan baru

Untuk
mengendurkan paranoidku pada lingkungan baru kami bersilaturahmi dari
rumah ke rumah. Meski bukan orang-orang yang sama. Tapi, aku bisa
tersenyum setelahnya.

Dia,
ternyata, ingin aku melihat  lingkaran cinta yang lain

***

Manusia ternyata…begitu mudah
terbolak-balik…

Hanya satu bulan setelah
kepindahanku. Baru satu bulan setelah aku beranjak dari lingkaran
cinta itu. Meski tetap menjalin komunikasi via Hp.

Hari
itu ketika akhirnya aku kesana…

Ketika
kerinduan mengalahkan rasa malas karena panas yang membelenggu
keinginan untuk mengunjungi perumahan lama. Malas berjalan setengah
kilo baru kemudian bisa naek becak -karena tidak mungkin naik motor.
Motor siapa?

Aku menikmati keseluruhan
kunjungan ini.

Tetangga
terdekat rumah dulu, dan memang yang paling dekat. Dan memang masih
terasa dekat. Membuatku sejenak menikmati perasaan yang sama ketika
aku tinggal disana. Rujakan, makan es tung-tung yang sama, bakso yang
sama…

Ketika
kemudian tetangga terdekat mulai bercerita tentang tetangga lain dan
beberapa hal yang terjadi sepeninggalku. Sesuatu yang tidak terlalu
bagus. Tidak menyenangkan mendengar sesuatu yang kita anggap begitu
kuat ternyata bisa “terlihat” retak.

Ketika
mereka mulai “
bicara”
dengan pikiran mereka masing-masing, tentang satu sama lain.
Prasangka.

Lingkaran
cinta itu…apakah kehilangan kehangatannya?

Mungkin
tidak separah itu. Mungkin hanya karena aku terlalu berlebihan
menanggapinya.

Mungkin juga karena aku hanya punya sedikit waktu untuk menyimaknya.
Sedikit sudut memandanginya.

Bukankah
dalam cinta juga ada riak-riak k
ecil,
tapi tidak selalu berarti badai

(MonSan-060708;
dengan cinta, untuk orang2 yang mengajariku –lagi- tentang
kehangatan)

No comment »

-Life is beatiful-


Suatu waktu
temanku bercerita tentang kehidupannya..

Menurutnya
hidup terasa sulit sekarang. Orang yang menjadi suaminya bukanlah laki-laki
yang dia inginkan. Dia mengharapkan “seseorang” yang mengisi hidupnya, tapi
orang lain yang disodorkan oleh orang tuanya.

“Aku tak mampu
lagi menolak” bisiknya hari itu.

Semua jadi terasa
tak beres baginya. Cinta yang ditunjukkan suaminya terasa aneh dan dibuat-buat.
Dia sulit menerima semua perhatian demi perhatian yang diberikan suaminya. Meski
orang lain merasakan betapa sangat suaminya mencintainya (…kalimatnya kacau).

 

Aku ingat
dulu, ketika masih kuliah, Pernah sekali terbersit dalam hatiku, betapa
senangnya jadi dia. Manis, pintar, mudah beradaptasi, baik, punya banyak teman
lelaki. Berbeda denganku yang tertutup dan susah bergaul. Tapi, entah kenapa
hubungan cintanya tidak pernah berhasil dengan baik. Selalu berakhir un-happy. Entah
karena mereka cemburuan atau karena tidak pernah bisa mempercayai orang. Sampai
ku pikir betapa bodoh dan butanya semua lelaki yang pernah memasuki hidupnya.

Juga lelaki
terakhir yang dicintainya sebelum menikah itu, Bener-bener bodoh dan tidak
pantas dipertahankan. Apalagi ditangisi. Cwapek deh!

 

Ku pikir dia
telah mendapatkan orang yang paling tepat untuknya. Orang yang berani mempertanggungjawabkan
cinta dengan pernikahan. Karena ku lihat dia bahagia jadi ku pikir begitulah
adanya. Tapi ternyata…lain di hatinya…

 

Hari itu dia
bukan hanya ingin bercerita tentang tekanan yang dialaminya belakangan. Tapi
juga tuntutan yang datang karena kewajibannya sebagai seorang istri.

“Aku ingin
menjadi istri yang baik” dia berkata penuh harap.

Bukan hanya
status yang melekat padanya. Dia juga ingin membuat hatinya lekat pada
suaminya. Dan itulah yang membuatnya berbagi denganku. Berharap aku akan
membagi rahasia besar yang bisa menjadi kunci kebahagiaannya.

 

Kebahagiaan…

Menjadi
bahagia tentulah menjadi dambaan setiap orang.

Tidak apalah
hidup pas-pasan yang penting hidupnya diliputi kebahagiaan. Alhamdulillah lagi
jika hidup berlebih dan bahagia sepanjang masa (amin. Semoga Allah melimpahi
kita dengan harta yang banyak dan BERKAH.. Karna kita membutuhkannya untuk membantu orang lain).

 

Sudah pasti
tak ada seorangpun yang memimpikan hidup susah.

Tak terkecuali
temanku ini. Tentu saja dia tidak ingin terus-menerus hidup dalam tekanan yang
diciptakannya sendiri. Hidup bersama orang yang mencintainya tapi masih dibayangi
oleh harapannya di masa lalu. Bisa-bisa semua kebahagiaan yang sudah berada
dihadapannya itu hilang begitu saja. karena itu dia berusaha membuat hatinya
mengerti inilah satu-satunya cara untuk menjadi bahagia. Dengan menerima
kenyataan yang sudah tergaris. Dengan tidak lagi menyalahkan orang tua untuk
rasa sakit dan tekanan yang dialaminya sekarang. Dengan berdamai dengan hatinya
sendiri. Berdamai dengan keinginannya pribadi. Demi bisa mengecap kebahagian
hidupnya. Dan juga anak-anaknya….kelak.

Juga untuk
nanti, ketika dia harus mempertanggungjawabkan perjanjian agung yang telah
dibuatnya dihadapan Allah.

 

Bukan hal yang
mudah. Tapi semua harus diusahakan karena temanku bukanlah seorang egois yang
akan memaksakan harapannya harus menjadi nyata. Bukan seorang yang akan
menempuh cara pengecut meninggalkan suami dan menyakiti keluarga dengan memecah
dua keluarga besar yang baru bersatu tanpa berusaha mengalahkan egonya. Dia
belajar.

 

Hebat bukan?

Dia tidak
menyerah hanya pada cinta dan harapannya yang patah.

 

Semakin
sedikit keinginan, semakin besar kebahagiaan.

Ketika ku baca
kalimat itu pada sebuah majalah, hal inilah yang terbayang. Betapa banyak orang
yang dikecewakan oleh harapannya sendiri sebelum menikah. Mencintai seseorang
yang belum pantas mendapatkan cinta itu dengan sangat dan harapan-harapan yang
tinggi melayang. Ketika Allah menjawab doa kita dengan memberikan orang terbaik
untuk kita yang ternyata bukan dia. Kita tersungkur kecewa.

Padahal, apa
sih yang kita mengerti tentang apa-apa yang terbaik untuk kita dan apa-apa yang
akan membawa kebaikan untuk kita. Bukankah sesuatu yang tampak baik bagi kita
belum tentu membawa kebaikan buat kita? Dan yang tampak buruk tidak berarti
buruk…

 

Hidup ini
INDAH

Menjadi
bahagia juga mudah

Jika kita bisa
mengekang nafsu dan menyimpan sedikit keinginan saja

Sedikit.

Agama

Yang
terpenting

insyaALLah,
yang baik-baik mengikuti

 

tapi…

seperti apa
kita

seperti itulah
pasangan kita

ingin pasangan
yang terbaik?

perbaiki
diri…

 

SEMANGAT!!!

 

(4my lovely
husband…Mz.Zula_Zawa, yg paling sabar sedunia)

No comment »

AYAH

(ALIA, edisi “Men In My Life”, juni’07)

Seorang anak wanita bertanya, tatkala dia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badan terbungkuk-bungkuk disertai suara batuk-batuk.
Anak wanita itu bertanya pada ayahnya, “Ayah, mengapa wajah ayah kian berkerut-merut dengan badan ayah yang kian membungkuk? Dan sepertinya, ayah menjadi demikian tanpa ada mengeluhkan rasa sakit?”
Ayahnya menjawab, ”Sebab aku laki-laki.”
Anak wanita ia bergumam, “Aku tidak mengerti” . Dengan kerut-kening karena jawaban ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran.
Ayahnya hanya tersenyum. Lalu dibelainya rambut anak wanita itu, sambil membisikkan sebuah kalimat lembut. “Kelak kau akan mengerti.”
Anak wanita itu pun kemudian tumbuh menjadi dewasa. Tetapi dia tetap saja tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya bertahun-tahun lalu.
***

Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.

“Saat Ku-ciptakan laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia akan senantiasa berusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh, dan terlindungi.”

“Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya.”

“Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetes keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya.”

“Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah. Demi keluarganya, dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari. Demi keluarganya, dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan dihembus angin. Dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya.”

“Ku-berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun di setiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya.”

“Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, di dalam kondisi dan situasi apapun juga. Walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara.”

“Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan bahwa istri yang baik adalah istri yang setia terhadap suaminya, istri yang baik adalah istri yang senantiasa menemani,dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka. Walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi.”

“Ku-berikan kerutan di wajahnya agar menjadi bukti bahwa laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga sakinah. Dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya.”

“Ku-berikan kepada laki-laki tanggungjawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggungjawab ini adalah amanah di dunia dan di akhirat.”

Terbangun anak wanita itu dan segera dia berlari, bersuci dan berwudhu dan melakukan shalat malam hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdzikir, ketika ayahnya berdiri, anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan ayahnya.
“Aku mendengar dan merasakan bebanmu, ayah. Terima kasih…!”

***

For my-Father the Hero (Alm):
I LOVE U Bapak, andai bisa ku katakan itu lebih awal.
Akan ku katakan selalu “Betapa aku mencintaimu..”
(10jan07)

No comment »

KTP…oh KTP…(mu)

Karena aku tidak tahu….ku rusak keindahan KTP baru suamiku.

Hari itu begitu pengumuman pegawai baru sebuah BUMN di gresik dan ternyata my Husband is the one of them (meski sempat stress, nggak doyan makan karena kanan kiri sms "aku dapat surat panggilan"-itu hari kamis. Dan semalaman masku nggak enak body karena sama sekali g ada kabar tentang surat_pinjam alamat temen_ataupun telfon. Alhamdulillah hari jumat jam 9 pagi ada kriiiing!!! dari BUMN tsb. Alhamdulillah. tapi langsung kenyang-tetep aja nggak doyan makan) masku langsung memutuskan pulang. Untuk mengambil semua berkas yang dibutuhkan. alhamdulillah juga pas pulang lebaran haji kemaren aku dah nitip adik ipar untuk ngurusin KTP dan KK kami berdua.

Pulang hari sabtu pagi, nyampai rumah hampir jam lima sore.

Ku lihat KTP kami, punyaku bagus mesti Kop-nya agak miring+kepotong dikit. tapi alhamdulillah masih tampak jelas. tapi…punya suamiku kok nggak jelas ya. prin-prinannya nggak begitu jelas terutama pada TTL.

Entahide dari mana malemnya iseng-iseng ku tebelin pake pensil. maksudnya biar agak jelasan dikit kalau di kopi. eh…lebih malem lagi sama masku malah disuruh nebelin pake pulpen. harusnya pakai pen yang paling nggak mata pen-nya kecil. eh ini pake pulpen biasa. tentu saja hasilnya tebel dan jelek. ku tipiskan pake penghapus malah angka sebelahnya banyak kehapus. pokoknya jadi jueleXXX buanget deh.

Wajah suamiku langsung berubah, KTP-ku jadi jelex batinnya. pa lagi golongan darah kosong ku tambahin juga. lengkap deh!hehe…

felling not good. aku ngrasa bersalah karena suamiku diem aja- nggak marah2 (emang bukan pemarah).

Mpe malem nggak bisa tidur…sementara suamiku tertidur kecapaian.

mpe pagi masih filing gak enak. padahal suami balik pasuruan paginya. aku tetep di kudus karena suami dapet tugas luar kota 1 minggu dari tempat kerja lama.

Hik…hik… i’m so sorry….

makin parah ketika ku lihat dibagian belakang KTP ada tulisan "dilarang menambah,…me… dengan data yang tidak benar"

tapi…data yangku isikan kan benar!…duh, memebela diri deh!

bener-bener maaf suamiku…karena indah KTP-mu jadi tidak tampak INDAH.

alhamdulillah nggak ada masalah berkaitan dengan KTP ketika ngurus ke Tempat kerja baru.

Mudah-mudahan aja tetep beres…amin

Comments (1) »

FAMILY DAY, the true day 4 the family

Malang-Sengkaling, 10 November 2007

Langit membiru terang. Hari yang ku nantikan akhirya datang.
Piknik bo’.. ^ ^ Kegiatan tahunan yang diadakan tempat suami bekerja. Meski ada sedikit perasaan “kenapa di Sengkaling. Kenapa nggak di Jatim Park atau Jatim Park II (Lamongan)?” Duh! Ada aja momen untuk protes.
Tidak ada pilihan ke Jatim Park karna tahun kemaren dah ke sana. Jatim Park II… kejauhan kali ya… Pasuruan-Lamongan, waktunya habis di jalan. Maski wahana yang di tawarkan jelas lebih variatif dan menantang untuk peserta kawak-kawak, tapi tidak untuk peserta kanak-kanak.
Berbeda dengan Sengkaling yang memang menitik berat pada wahana air- waterboom yang sangat CUCOK! dan menyenangkan untuk anak-anak (sebenarnya aku juga tertarik, sayang gak boleh nyemplung dengan pakaian lengkap+jilbab)..hehe…maunya!
Sampai di Sengkaling sekitar setengah sembilan. Semua karyawan plus keluarganya dikumpulkan di tempat waterboom – masuk pintu primitif. Anak-anak langsung nyemplung. Kawak-kawak menikmati acara dengan duduk-duduk di deretan bangku yang tersusun miripbangku stadion, bertingkat-tingkat. Acara dimulai dengan beberapa bait sambutan diselingi hiburan oleh “Elex Yo Ben” yang emang gak bisa dikatakan bagus hehe… disambung dengan pmbagian Door Price. Sayang kami gak dapet. Kurang beruntung. Eh, tapi masih beruntung dapat hadiah payung dari lomba gelang berantai. 10 orang tiap kelompok harus bergandengan tangan kemudian berlomba melewatkan gelang rotan tanpa melepas pegangan tangan. Team Work. Sesuai dengan tema yang diusung “Good Work, Good Habit, Good Profit”.
Lumayanlah dapat payung, sesuai dengan kondisi “Sedia Payung sebelum musim hujan”.
Betul!?
Peserta baru bisa meninggalkan tempat untuk menjelajahi wahana lain setelah pembagian hadiah utama di akhir acara. Dua buah televisi dan … i forget!
Cara yang sangat jitu untuk membuat peserta mengikuti acara dari awal sampai akhir. Soale kalo mpe gak muncul pas no dipanggil dijamin hadiah melayang.

Acara pembukaan selesai. Sekarang acara inti… MAIN!!!!… hehehe…
Petualangan dimulai dengan kebut-kebutan, kejar-kejaran&tabrak-tabrakan Bom-Bom Car. Memanfaatkan permainan yang bisa dinikmat tidak hanya oleh kanak-kanak. Lumayanlah dari pada nyemplung kolam renang. Berlanjut dengan naek ke Kapal Bajak Laut apus-apusan…yang ditawarkan cuma nonton film dan tetek-bengek tentang bajak laut (.. gak tertarik). Naek ke bagian paling atas kapal ada tempat untuk Flying Fox. Asyik tuh. Nyebrang danau buatan yang di pake untuk arena prahu bebek. Suami nyoba. Waktu awal meluncur katanya deg-degan. Tapi ASYIK!
Habis tu keliling-keliling danau naek prahu bebek, genjot mpe gempor!
Cwapek deh!!

Habis menikmati genjot prahu bebek dah dhuhur. Time to Pray. Waktunya sholat. So kita berdua menuju tempat makan (LHO!!) berhubung lapar. Tadi pagi cuma sarapan mie. Dari pada sholat sambil mikir makan lebih baik makan sambil mikir sholat. Ya nggak? Kan ada tuh cerita dua orang yang mo pergi ke ketemu di jalan yang satu mo ke pengajian yang satu mo nonton dangdutan (cerita disesuaikan dengan jaman sekarang). Saling nyapa plus tanya tujuan. Sampai ditujuan masing-masing yang nonton dangdutan nyesel kenapa gak ikut temennya ke pengajian, di lain pihak temen yang satu yang lagi pengajian malah nyesel gak ikut nonton dangdutan.
Singkat cerita dalam perjalanan pulang mereka berdua mengalami sesuatu yang membuat mereka kehilangan nyawa. Malaikat putih membawa orang yang baru pulang dangdutan ke surga, sementara orang yang baru pulang dari pengajian malah diseret malaikat hitam ke neraka. Intinya It’s about apa yang ada dipikiran mereka.
Ada hubungannya?
Tugas anda menyimpulkan.

Cerita selanjutnya….
Selesai makan Nasgor+Es buah. Kami kenyang. Hehehe… baru melanjutkan perjalanan ke bawah benteng untuk sholat dhuhur (mushola ada bawah benteng).
Sweger rek!
Perjalanan di lanjukan ke Wahana Ground apa gitu. Cuma mainan anak-anak thok. Tapi asyik. Ayunan,cangkir puter yang ada setirannya, jungkat-jungkit, ombak banyu yang harus naek+dorong sendiri… serba pake tenaga sendiri deh. Eh ada lagi, panjat dinding anak2 tingginya paling dua meter. Tapi kalo gak ada itu aku gak akan pernah ngrasain rasanya ikutan panjat dinding. Gayanya aja kaya pemanjat dinding profesional hehe…
Cwapek…males ke arena satwa kalo cuma mo nengok temen lamaaaaaaaaaa….banget.
Mending santai-santai main ayunan berdua… mumpung ada kesempatan buat pacaran. Gak pernah pacaran sih jadi memanfaatkan momen semaksimal mungkin.
Kok dah sepi ya… pada kemana orang-orang…kan baru jam satu seperempat. Jadwal kumpul baru jam etengah tiga. Masih lumayan lama.
Ada penjual es krim…beli nyook…
Jam dua, dah capek bangetz. Nyerah deh, walking out to the bus stop, ke parkiran maksudnya. Orang-orang lagi pada sibuk beli oleh-oleh. Nimbrung ah…
Sekitar jam tiga bis mulai merangkak meninggalkan sengkaling. Back to pasuruan.
Ngantukz banget… tidur nyenyak selama perjalanna pulang. Baru bangun pas nyampe The Taman Dayu- daerah mana ya daku belum hafal namanya.
Kembali ke tempat dari mana kami datang dengan selamat. Alhamdulillah.
Very nice trip… very happy!

Thankyou for reading this story

No comment »

The Eclipse

Hari itu, 26 agustus’07 ketika aku baru nyampe Kudus. The Kakak Ipar bilang kalo meh ada gerhana bulan ntar malem (malem or pagi ya..soale dia bilang jam00.30)-brarti mbesok pagi ndong! katanya bakal kliatan planet Mars.
The Kakak Ipar dapat info dari internet, katanya its only happen one tme in 200 years (200 tahun…? kalo g liat sekarang 200 tahun lagi dah tinggal kenangan dong!)
Aku suka langit dan pernak-perniknya, tapi entah kenapa malam itu waktu g terlalu greget untuk nonton. Saat suami bilang “nonton yuk” juga cuma yak-yuk aja. Kalo bangun maksudnya. G terlalu niat ato maksa harus bangun. Just wanna sleep…capek banget, baru datang dari pasuruan - paginya langsung ada acara. Cwapek dech!
Pa lagi malemnya sebelum tidur nonton DVD dulu mpe malem. Pokoknya g janji deh kalo disuruh bangun jam00.30 pagi.
Alhasil emang baru bangun subuh. Suami juga, katanya pengen banget liat tapi g semangat bangun kaya biasanya. Padahal biasanya dia yang paling peka dengan bunyi alarm.

Ku suruh nonton berita pagi-biasanya hal langka kaya gitu kalo bener kejadian pasti jadi Hot News dong. Pa lagi perkara bintang, bulan dan benda2 langit. Tapi sepertinya suami g nonton, asyik telp ade’ untuk memastikan jumlah keluarga besan yang mo datang.
So…g ngerti deh.

Besok malemnya suami masih belum nyerah pengen tau about that gerhana. Lagi2 pasang alarm jam00.30. Tapi tetep aja baru bangun pas subuh..hehe..payah!
So…tema tentang gerhana pun bergeser. We are not talk about that again. Emang dah g bisa liat ya udah- yang penting dah berusaha..hehe..begitu mungkin pikir suami. Pa lagi habis dhuhur dah harus balik ke Pasuruan jadi keinginan untuk berbincang tentang gerhana bulan pun ter-DEL dengan sendirinya. Berganti dengan tema “mengejar bis patas AC Smg-Sby” di terminal Kudus.
Alhamdulillah dapat patas JU, itu artinya g perlu mengeluarkan bekal makan malam coz bis ini bisa dipastikan berhenti dinner di daerah tuban. Syiip!..

Melewati laut jawa, terlihat bulatan merah nyaris tenggelam.
Ku dengar Ibu&mas dari bangku belakang berbicara tentang gerhana “… sampai jam7” kata masnya. Aku g nangkep awal+akhir. Aku hanya menangkap waktunya, tu juga tanpa kejelasan jam7 apa. Pagi..? atau..malam?.. hanya ku dengar sambil lalu. (Ternyata kata suamiku pembicaraan antara ibu&mas itu berawal dari komentar aneh ibu itu waktu liat matahari yang memerah hampir tenggelam “wah, indah sekali gerhananya…” hwehehe…Aku g tau kalo suamiku ngekek dengar itu. Pantes aku dengar ibu itu mengeluarkan defense “biasanya saya lewat sini malem” – ternyata itu awalnya.

Hampir magrib, aku dah lupa dengan pembicaraan dua orang di bangku belakang. Ketika langit mulai gelap, dari sisi jendela sebelah kiri aku lihat bulan sabit.
Sabit?… kok sabit. Perasaan kemaren purnama kok sekarang jadi bulan sabit. Harusnya baru dicicip Doraemon sedikit.
Tapi masih g terlal perdulikan. Pa lagi sebentar kemudian ku cari-cari Miss Bulan menghilang. Aneh.

06.45 pm, waktunya makan. Turun dari bis menuju rumah makan suami bilang “Bulannya ketutupan..”. Kontan aja pandangan+pikiranku terpusat ke bulan yang ketutup sedikit oleh sesuatu yang tampak seperti awan. Sedetik. Weits!… baru sadar GERHANA! Baru sadar sekarang kenapa tadi ku lihat bulannya sabit kemudian menghilang.

Selesai makan sang Bulan baru kliatan separo.
Suami nelpon the Kakak Ipar mengabarkan tentang gerhana yang sangat dinanti-nantikan. Ntah kemudian mereka nonton atau tidak.
Aku sendiri bingung mau mengabarkan pada siapa lagi tentang peristiwa alam ini… sappa ya…akhirnya ku putuskan kirim message ke Nitz – kembaranku (dalam tanda kutip)..hehe..tapi messagenya bertepuk sebelah tangan. Yo wis lah- lagipula aku juga meh melanjutkan perjalanan ke Bungur Asih. Bulan juga dah hampir berez.
The story harus berakhir di sini, dengan senyuman – karna aku g perlu menunggu 200 tahun lagi untuk menyaksikan peristiwa ini.

200 tahun?…entah apa yang masih tersisa dariku.
-Ciao-

Comments (1) »

One day b4..

Ngakünya masih nyante-g ngrasa apa2..tp..
Trnyata bingung jg..
Untung msh ada krjaan+sohibku Nti”ndutz” yg mnemani.SENENG DH.Pa lg aq boleh friendster lewat hpnya..hehe..asyik y.

main aAp say pYar karti hoon…just wanna say that

bismillah…

Comments (1) »