Archive for July, 2008

Satu hari bersama ikan tongkol yang malang

Males
banget mau masak. Tidak ada ide mau masak siapa
hari
ini ^-^ hehe…

Pukul sembilan lewat, tukang
sayur mulai terdengar tanda-tandanya mau lewat.

Deru
motornya terdengar dari jarak dua blok.

Teet…teet… brentinya di
rumah sebelah dan sebelahnya lagi.

(Jarak
dua rumah-maksudnya)

Kakiku
melangkah menjemput bahan-bahan untuk masakanku esok hari

Entah apa itu-

Diantara
bawaan mbak penjualnya, yang tampak hanya sekeranjang-berisi 5 ekor
ikan tongkol berukuran sedang, sebungkus daging sapi, setengah k
ilo
ikan bandeng (aku tidak terlalu suka, meski suamiku suka), beberapa
bungkus telur puyuh matang seharga Rp.1500. Kesiangan, belanjaan
tinggal sisa-sisa.

Pilih yang mana ya?… 

Ehm…bingung
mo pilih yang mana..tetanggaku cari sop-sopan tapi dah habis. Aku
masih punya sayur
an
yang kemaren ku beli di pasar, jadi sekarang tinggal beli lauk buat
besok.

Setelah
lama menimbang dan me
ngukur
(apaan tuh!) akhirnya pilihan jatuh pada ikan tongkol. Beli satu aja
nanti dipotong jadi empat. Masak bersama tahu putih goreng. Beres!

Yang penting bisa buat sarapan
suami tersayang. Duuuh!!…

Aku
membawa belanjaan masuk rumah setelah kurang lebih setengah jam
ber-akrab-akrab ria dengan tetangga. Warga baru harus unjuk hidung
kal
au
tidak mau di cap sombong dan semakin tidak dianggap eksistensinya
(weleh!).

Meletakkan belanjaan di dapur,
aku langsung….nonton tivi. Masih terlalu pagi untuk memasak si
tongkol, pikirku. Agak siangan aja.

Ganti
channel sana-sini, selesai nonton Oprah Show nggak ada lagi acara
yang bagus untuk dinikmati. Masak sekarang saja…

Kakiku melangkah ke dapur,
tanganku mulai bergerak memotong tubuh si tongkol menjadi empat
bagian. Memotong-motong tahu kemudian menggorengnya setengah kering.
Mempersiapkan bumbu, mengulek…ulek-ulek. Sebentar saja masakan dah
beres. Setelah mematikan kompor, wajan berisi ikan tongkol ku
letakkan di samping kompor. Masih panas, jadi nggak ku tutup.

Ku tinggalkan dapur, kembali
duduk manis di depan tivi. Tanganku bergerak membuka majalah hasil
pinjaman dari tetangga. Asyik menikmati bacaan sambil sesekali
melihat tivi.

Dari
jauh terdengar penjual roti yang ku kenal. Beli roti tawar putih
tanpa kulit. Menikmatinya setangkup. Ditambah segelas air putih.
Ehm…ngantuk! (lho?)

Sehabis dhuhur, ngantuk. Tidur
nyok! Nglurusin punggung.

Baru
sebentar merebahkan diri diatas kasur, kesadaranku bergerak menurun.
Terhanyut ke pulau kapuk…

Pukul
setengah
dua siang, kesadaran mulai pulih. Mulai sadar kalau aku kepengen
buang air kecil hehe…

Dari kamar mandi, ada sesuatu
yang juga pelan-pelan terasa di perutku…Laper!

Sampai di dapur, baru mau
mengambil piring, ku lihat ada sesuatu yang aneh dengan ikan
tongkolku yang masih teronggok di wajan. Wah! Aku lupa menutup wajan
dan mengembalikannya ke atas kompor.

Terlihat tulang ikan
bertebaran. Ku telusuri jejak yang tampak. Ku temukan sebuah bola
mata sang ikan tergeletak di atas karpet biru baru yang baru kami
beli kemaren. Kembali ke ke dapur, baru tersadar, tiga potong ikan
tongkol telah lenyap. Yang tersisa hanya sepotong bagian ekor.

Hah!
Innalillahi, ikan tongkolku yang malang.

Kucing
tidak tahu sopan santun.

Kucing tidak
berperikemanusiaaaaaan!!!!

Hilang deh lauk buat sarapan
suamiku tersayang…

…besok
pagi, makan siapa???..

(Tuban, 070708, one day be4
ultah pertama perkawinan)

No comment »

circle of love



Manusia
itu… cepat sekali berubah

Sangat dinamis

Hati,
begitu mudah terbolak-balikkan

***

Aku,
sangat menyukai tetangga-tetanggaku di kontrakan lama.

Hangat  dan nyaman. Dengan
kekeluargaan yang terasa sangat kental. Satu sama lain begitu akrab.

Ketika
baru
pindah kesana, mereka menarikku masuk ke dalam lingkaran cinta yang
begitu hangat merona

Cantik

Sampai-sampai,
baru satu minggu dari dua bulan kesepakatan, aku bersikukuh ingin
tetap berada disana untuk jangka waktu lama. Enggan beranjak dari
kenyamanan yang telah merasuk dalam, di hati ini.

Manusia ternyata, begitu mudah
tersentuh cinta

Suamiku
berulang kali harus mengingatkan aku tentang kondisi rumah yang tidak
terlalu baik u
ntuk
dipertahankan. Sebelum dua bulan masa kontrak habis, suamiku berharap
kami menemukan rumah yang lebih baik. Lebih nyaman. Tidak perlu
mengepel berulang-ulang karena  bocor ketika hujan turun dan air
masih terus menetes sampai dua puluh empat jam kemudian. Saluran
pembuangan yang mampet dan terkadang mengeluarkan bau tak sedap.
Selokan yang berisi air kehijauan yang tidak mengalir. Pintu-pintu
kamar yang tidak bisa ditutup rapat. Setiap sore menguras wastafel di
dapur karena mampet. Parah!

Terkadang
aku sadar betapa tidak seharusnya tetap be
rtahan
di rumah itu setelah jangka waktu dua bulan terlewati. Kenapa ngotot
ingin tetap tinggal jika dengan harga yang sama bisa mendapatkan
rumah yang lebih baik.

Tapi, berat sekali memutuskan
untuk melangkahkan kaki keluar dari lingkaran cinta yang begitu
hangat ku rindukan.

Susah
sekali

untuk  melepaskan rasa nyaman yang telah terlanjur kita cicipi.

Kami
mulai
berusaha mencari kontrakan baru di perumahan yang sama. Meskipun
tidak bisa tinggal di blok yang sama setidaknya bisa tetap berada
dekat dengan lingkaran itu. Aku berharap masih bisa menyentuhnya…
kehangatan itu.

Kita punya harapan. Tuhan
punya jalan.

Tak
ada jalan bagi kami untuk bisa tetap tinggal dekat dengan l
ingkaran
itu. semua telah tertutup. Meski kami kesana-kemari menjelajah
komplek itu, mencari rumah nyaman yang bisa kami tempati. Tapi,
selalu…terlambat!

Akhirnya,
mau bagaimana lagi, jJalan yang Dia buka membawa kami ke perumahan
ini…

Lingkungan baru

Untuk
mengendurkan paranoidku pada lingkungan baru kami bersilaturahmi dari
rumah ke rumah. Meski bukan orang-orang yang sama. Tapi, aku bisa
tersenyum setelahnya.

Dia,
ternyata, ingin aku melihat  lingkaran cinta yang lain

***

Manusia ternyata…begitu mudah
terbolak-balik…

Hanya satu bulan setelah
kepindahanku. Baru satu bulan setelah aku beranjak dari lingkaran
cinta itu. Meski tetap menjalin komunikasi via Hp.

Hari
itu ketika akhirnya aku kesana…

Ketika
kerinduan mengalahkan rasa malas karena panas yang membelenggu
keinginan untuk mengunjungi perumahan lama. Malas berjalan setengah
kilo baru kemudian bisa naek becak -karena tidak mungkin naik motor.
Motor siapa?

Aku menikmati keseluruhan
kunjungan ini.

Tetangga
terdekat rumah dulu, dan memang yang paling dekat. Dan memang masih
terasa dekat. Membuatku sejenak menikmati perasaan yang sama ketika
aku tinggal disana. Rujakan, makan es tung-tung yang sama, bakso yang
sama…

Ketika
kemudian tetangga terdekat mulai bercerita tentang tetangga lain dan
beberapa hal yang terjadi sepeninggalku. Sesuatu yang tidak terlalu
bagus. Tidak menyenangkan mendengar sesuatu yang kita anggap begitu
kuat ternyata bisa “terlihat” retak.

Ketika
mereka mulai “
bicara”
dengan pikiran mereka masing-masing, tentang satu sama lain.
Prasangka.

Lingkaran
cinta itu…apakah kehilangan kehangatannya?

Mungkin
tidak separah itu. Mungkin hanya karena aku terlalu berlebihan
menanggapinya.

Mungkin juga karena aku hanya punya sedikit waktu untuk menyimaknya.
Sedikit sudut memandanginya.

Bukankah
dalam cinta juga ada riak-riak k
ecil,
tapi tidak selalu berarti badai

(MonSan-060708;
dengan cinta, untuk orang2 yang mengajariku –lagi- tentang
kehangatan)

No comment »