circle of love



Manusia
itu… cepat sekali berubah

Sangat dinamis

Hati,
begitu mudah terbolak-balikkan

***

Aku,
sangat menyukai tetangga-tetanggaku di kontrakan lama.

Hangat  dan nyaman. Dengan
kekeluargaan yang terasa sangat kental. Satu sama lain begitu akrab.

Ketika
baru
pindah kesana, mereka menarikku masuk ke dalam lingkaran cinta yang
begitu hangat merona

Cantik

Sampai-sampai,
baru satu minggu dari dua bulan kesepakatan, aku bersikukuh ingin
tetap berada disana untuk jangka waktu lama. Enggan beranjak dari
kenyamanan yang telah merasuk dalam, di hati ini.

Manusia ternyata, begitu mudah
tersentuh cinta

Suamiku
berulang kali harus mengingatkan aku tentang kondisi rumah yang tidak
terlalu baik u
ntuk
dipertahankan. Sebelum dua bulan masa kontrak habis, suamiku berharap
kami menemukan rumah yang lebih baik. Lebih nyaman. Tidak perlu
mengepel berulang-ulang karena  bocor ketika hujan turun dan air
masih terus menetes sampai dua puluh empat jam kemudian. Saluran
pembuangan yang mampet dan terkadang mengeluarkan bau tak sedap.
Selokan yang berisi air kehijauan yang tidak mengalir. Pintu-pintu
kamar yang tidak bisa ditutup rapat. Setiap sore menguras wastafel di
dapur karena mampet. Parah!

Terkadang
aku sadar betapa tidak seharusnya tetap be
rtahan
di rumah itu setelah jangka waktu dua bulan terlewati. Kenapa ngotot
ingin tetap tinggal jika dengan harga yang sama bisa mendapatkan
rumah yang lebih baik.

Tapi, berat sekali memutuskan
untuk melangkahkan kaki keluar dari lingkaran cinta yang begitu
hangat ku rindukan.

Susah
sekali

untuk  melepaskan rasa nyaman yang telah terlanjur kita cicipi.

Kami
mulai
berusaha mencari kontrakan baru di perumahan yang sama. Meskipun
tidak bisa tinggal di blok yang sama setidaknya bisa tetap berada
dekat dengan lingkaran itu. Aku berharap masih bisa menyentuhnya…
kehangatan itu.

Kita punya harapan. Tuhan
punya jalan.

Tak
ada jalan bagi kami untuk bisa tetap tinggal dekat dengan l
ingkaran
itu. semua telah tertutup. Meski kami kesana-kemari menjelajah
komplek itu, mencari rumah nyaman yang bisa kami tempati. Tapi,
selalu…terlambat!

Akhirnya,
mau bagaimana lagi, jJalan yang Dia buka membawa kami ke perumahan
ini…

Lingkungan baru

Untuk
mengendurkan paranoidku pada lingkungan baru kami bersilaturahmi dari
rumah ke rumah. Meski bukan orang-orang yang sama. Tapi, aku bisa
tersenyum setelahnya.

Dia,
ternyata, ingin aku melihat  lingkaran cinta yang lain

***

Manusia ternyata…begitu mudah
terbolak-balik…

Hanya satu bulan setelah
kepindahanku. Baru satu bulan setelah aku beranjak dari lingkaran
cinta itu. Meski tetap menjalin komunikasi via Hp.

Hari
itu ketika akhirnya aku kesana…

Ketika
kerinduan mengalahkan rasa malas karena panas yang membelenggu
keinginan untuk mengunjungi perumahan lama. Malas berjalan setengah
kilo baru kemudian bisa naek becak -karena tidak mungkin naik motor.
Motor siapa?

Aku menikmati keseluruhan
kunjungan ini.

Tetangga
terdekat rumah dulu, dan memang yang paling dekat. Dan memang masih
terasa dekat. Membuatku sejenak menikmati perasaan yang sama ketika
aku tinggal disana. Rujakan, makan es tung-tung yang sama, bakso yang
sama…

Ketika
kemudian tetangga terdekat mulai bercerita tentang tetangga lain dan
beberapa hal yang terjadi sepeninggalku. Sesuatu yang tidak terlalu
bagus. Tidak menyenangkan mendengar sesuatu yang kita anggap begitu
kuat ternyata bisa “terlihat” retak.

Ketika
mereka mulai “
bicara”
dengan pikiran mereka masing-masing, tentang satu sama lain.
Prasangka.

Lingkaran
cinta itu…apakah kehilangan kehangatannya?

Mungkin
tidak separah itu. Mungkin hanya karena aku terlalu berlebihan
menanggapinya.

Mungkin juga karena aku hanya punya sedikit waktu untuk menyimaknya.
Sedikit sudut memandanginya.

Bukankah
dalam cinta juga ada riak-riak k
ecil,
tapi tidak selalu berarti badai

(MonSan-060708;
dengan cinta, untuk orang2 yang mengajariku –lagi- tentang
kehangatan)

Say your words