Satu hari bersama ikan tongkol yang malang

Males
banget mau masak. Tidak ada ide mau masak siapa
hari
ini ^-^ hehe…

Pukul sembilan lewat, tukang
sayur mulai terdengar tanda-tandanya mau lewat.

Deru
motornya terdengar dari jarak dua blok.

Teet…teet… brentinya di
rumah sebelah dan sebelahnya lagi.

(Jarak
dua rumah-maksudnya)

Kakiku
melangkah menjemput bahan-bahan untuk masakanku esok hari

Entah apa itu-

Diantara
bawaan mbak penjualnya, yang tampak hanya sekeranjang-berisi 5 ekor
ikan tongkol berukuran sedang, sebungkus daging sapi, setengah k
ilo
ikan bandeng (aku tidak terlalu suka, meski suamiku suka), beberapa
bungkus telur puyuh matang seharga Rp.1500. Kesiangan, belanjaan
tinggal sisa-sisa.

Pilih yang mana ya?… 

Ehm…bingung
mo pilih yang mana..tetanggaku cari sop-sopan tapi dah habis. Aku
masih punya sayur
an
yang kemaren ku beli di pasar, jadi sekarang tinggal beli lauk buat
besok.

Setelah
lama menimbang dan me
ngukur
(apaan tuh!) akhirnya pilihan jatuh pada ikan tongkol. Beli satu aja
nanti dipotong jadi empat. Masak bersama tahu putih goreng. Beres!

Yang penting bisa buat sarapan
suami tersayang. Duuuh!!…

Aku
membawa belanjaan masuk rumah setelah kurang lebih setengah jam
ber-akrab-akrab ria dengan tetangga. Warga baru harus unjuk hidung
kal
au
tidak mau di cap sombong dan semakin tidak dianggap eksistensinya
(weleh!).

Meletakkan belanjaan di dapur,
aku langsung….nonton tivi. Masih terlalu pagi untuk memasak si
tongkol, pikirku. Agak siangan aja.

Ganti
channel sana-sini, selesai nonton Oprah Show nggak ada lagi acara
yang bagus untuk dinikmati. Masak sekarang saja…

Kakiku melangkah ke dapur,
tanganku mulai bergerak memotong tubuh si tongkol menjadi empat
bagian. Memotong-motong tahu kemudian menggorengnya setengah kering.
Mempersiapkan bumbu, mengulek…ulek-ulek. Sebentar saja masakan dah
beres. Setelah mematikan kompor, wajan berisi ikan tongkol ku
letakkan di samping kompor. Masih panas, jadi nggak ku tutup.

Ku tinggalkan dapur, kembali
duduk manis di depan tivi. Tanganku bergerak membuka majalah hasil
pinjaman dari tetangga. Asyik menikmati bacaan sambil sesekali
melihat tivi.

Dari
jauh terdengar penjual roti yang ku kenal. Beli roti tawar putih
tanpa kulit. Menikmatinya setangkup. Ditambah segelas air putih.
Ehm…ngantuk! (lho?)

Sehabis dhuhur, ngantuk. Tidur
nyok! Nglurusin punggung.

Baru
sebentar merebahkan diri diatas kasur, kesadaranku bergerak menurun.
Terhanyut ke pulau kapuk…

Pukul
setengah
dua siang, kesadaran mulai pulih. Mulai sadar kalau aku kepengen
buang air kecil hehe…

Dari kamar mandi, ada sesuatu
yang juga pelan-pelan terasa di perutku…Laper!

Sampai di dapur, baru mau
mengambil piring, ku lihat ada sesuatu yang aneh dengan ikan
tongkolku yang masih teronggok di wajan. Wah! Aku lupa menutup wajan
dan mengembalikannya ke atas kompor.

Terlihat tulang ikan
bertebaran. Ku telusuri jejak yang tampak. Ku temukan sebuah bola
mata sang ikan tergeletak di atas karpet biru baru yang baru kami
beli kemaren. Kembali ke ke dapur, baru tersadar, tiga potong ikan
tongkol telah lenyap. Yang tersisa hanya sepotong bagian ekor.

Hah!
Innalillahi, ikan tongkolku yang malang.

Kucing
tidak tahu sopan santun.

Kucing tidak
berperikemanusiaaaaaan!!!!

Hilang deh lauk buat sarapan
suamiku tersayang…

…besok
pagi, makan siapa???..

(Tuban, 070708, one day be4
ultah pertama perkawinan)

Say your words