Archive for August, 2008

Nyamuk, obat nyamuk and i…

          Seekor nyamuk kecil kurus berdengung-dengung berputar di atas kepalaku. Hari menjelang malam begini nyamuk-nyamuk mulai unjuk kebolehan. Mengeluarkan suara khasnya yang mengganggu.


Hanya aku yang terganggu. Suamiku nyaris tak terusik. Meski puluhan nyamuk (hiperbolis) menggigit tangan, kaki, wajah tetep tidak perduli. Justru aku yang keplok-keplok kesana-kemari.


Sebenarnya aku juga berusaha menghilangkan kesebelanku pada nyamuk-nyamuk itu. Aku berasal dari daerah dataran tinggi. Sebuah kota kecil dengan hawa sejuk cenderung dingin. Dingin maksudnya! Di daerah kami, tak ada nyamuk yang ikut masuk rumah untuk nonton tivi pada malam hari. Tidak ada dengungan atau gatal di badan karena gigitan nyamuk nakal. Mungkin karena itu, begitu aku pindah ke tuban dan mendapati tiap malam menjelang ada begitu banyak nyamuk ikut masuk rumah berpesta darah kami.


Aku berusaha tak perduli. Seperti juga suamiku yang tetap bergeming meski beberapa mili darahnya berpindah pada tubuh-tubuh kecil si nyamuk. Merubah mereka-mereka menjadi nyamuk-nyamuk berperut gendut yang kesulitan terbang.

Tapi, rasa gatal yang ditimbulkan membuatku tidak nyaman. Sruk!…Sruk!… garuk sana-garuk sini. Olesin minyak kayu putih…duuuuuhhh!! manna tahan!…

Sebel! Kuraih botol berisi Aerosol anti nyamuk dan kecoa berbau berbau khas nan menyengat. Sesuatu yang kalau di rumahku, di wonosobo sana, menjadi solusi terakhir jika musuh bebuyutan adikku (kecoa) berkeliaran. Pilihan terakhir jika lemparan sandal tidak mampu menewaskan sang kecoa jagoan.


Srot-srot, ku semprot tiap-tiap sudut ruangan sepenuh hati. Prosesi pembantaian. Awalnya hanya ku lakukan jika kebetulan kami punya acara keluar malam. Dengan begitu, ketika kami pulang baunya telah hilang. Hanya menyisakan mayat-mayat nyamuk yang bergelimpangan.


Tapi, lama-lama aku tidak tahan untuk tidak membasmi mereka. Malam-malam ketika kami sedang asyik menonton tivi dan dengung nyamuk membaui keringat kami, atau juga ketika aku harus terbangun malam-malam karena serangan mereka. Sebuah penelitian- yang aku lupa sumbernya- menyebutkan, nyamuk berkumpul di sekitar kita bukan karena bau darah, tapi karena bau keringat. Lagi pula mereka juga tidak makan darah, mereka hanya butuh darah untuk telur-telur mereka. Kasihan juga sih sebenarnya. Tapi, gatel nek!


Srooot!…Srooot!… Sambil menyemprot aku berpikir, lama-lama bukan hanya nyamuknya yang mati. Prosesi pembantaian nyamuk yang juga prosesi bunuh diri sendiri sedikit demi sedikit. Aku juga bisa mati karena gangguan pernafasan. Tercekik oleh bau obat nyamuk yang menyengat. Aku tidak yakin obat nyamuk- yang paling bagus sekalipun, tidak berefek pada sistem pernafasan kita.


Alternatif lain yang aman, mungkin kembali memakai raket listrik. Plak-plok!… Plak-plok! Bagus bukan? Sekalian mendalami how to play badminton. Kalau lagi senggang bisa di pake untuk main badminton berdua, satu pake raket satunya pake talenan. Tidak masalah kalau harus ganti raket tiap bulan karena korset eh! Konslet. Toh banyak keuntungan yang di dapat.

Sekali ayun, dua tiga nyamuk terlampaui.

Hwaha…ha…ha…

Nggak lucuw!

***


(MonSan-250708, Backsound lagu fav-ku yang tidak kukenal di Al-manar TV)

No comment »